Latar Belakang
Pada era teknologi informasi platform digital dan media sosial bukan hanya berfungsi untuk terkoneksi dengan keluarga, sejawat, atau rekan kerja melainkan sebagai aset digital. Tidak dapat dipungkiri, bagian HRD perusahaan, lembaga penyelenggara beasiswa, bahwa kolega yang akan bekerja sama menggunakan media sosial sebagai sumber informasi pertama untuk mengetahui kredibilitas seseorang. Kalangan profesional seperti dokter, psikolog, dosen, apoteker, bidan, instruktur fitness, peneliti, dan coach dengan keahlian apapun memiliki peluang besar untuk meningkatkan eksposure melalui pengembangan dan pengelolaan media sosial.
Personal branding umumnya dipahami sebagai upaya yang terfokus dan terencana untuk memanfaatkan keahlian untuk membangun persepsi masyarakat. “Anda ingin dikenal sebagai apa?” adalah pertanyaan yang paling penting dalam membangun personal branding, (Jenner, 2021). Skill ini juga berkaitan dengan kemampuan mengapitalisasi keunikan pribadi untuk menarik peluang, memperluas pertemanan, menambah kolega bisnis, bahkan meningkatkan penghasilan.
Dengan storytelling yang kuat personal branding seorang profesional tidak hanya menarik audience yang dapat menjadi client tetapi juga membangun komunitas yang secara personal mendukung pelaku personal branding dalam membangun karier. Sebagai contoh, di media sosial, follower tidak hanya menjadi calon customer tapi juga menjadi fans yang secara personal terkoneksi, mendukung, bahkan menjadi pembela pertama apabila idolanya mendapatkan konfrontasi dari dunia luar. Oleh sebab itu, kemampuan untuk menguasai copywriting dan storytelling dalam personal branding sangat penting bagi kalangan profesional.